TUGAS
PENGANTAR
TEKNOLOGI INTERNET DAN NEW MEDIA .
MATERI BAB 15
Revolusi Industri Digital
Memahami Tentang Industri Digital
Terminologi "Industri 4.0", atau seringkali disingkat menjadi I4.0 atau I4,
pertama kali diperkenalkan di ajang pameran industri manufaktur. dunia
Hannover Fair 2011 sebagai inisiatif pemerintah Jerman untuk memanfaatkan
teknologi tinggi, terutama komputerisasi, di sektor manufaktur.
Angka 4.0 di belakang kata Industri tentu langsung
menggiring opini kita bahwa konsep ini merupakan kelanjutan dari revolusi
industri ketiga.
Seperti kita ketahui, industri global telah mengalami tiga
kali revolusi. Dimulai dari penemuan mesin uap di tahun 1800an yang
mendorong mekanisasi di bidang industri di mana tenaga manusia dan hewan
digantikan oleh mesin. Revolusi industri kedua ditandai dengan penemuan
pembangkit listrik dan combustion
chamber. Dan revolusi industri ketiga terjadi dengan munculnya
teknologi digital dan internet. Fase keempat revolusi industri ini memanfaatkan
digitalisasi dan penggunaan internet yang terjadi di fase revolusi ketiga.
Ada pula yang mendefinisikan Industri 4.0sebagai jaringan pintar yang
terdiri dari mesin dan proses industri, yang didukung oleh teknologi informasi
dan komunikasi. Atau secara lebih spesifik, Industri 4.0 juga seringkali dikaitkan dengan tren
otomatisasi dan pertukaran data, terutama dalam konteks teknologi manufaktur. Industri
4.0 disebut sebagai basis perkembangan smart
factory.
Perkembangan Industri Digital 4.0revolusi industri adalah perubahan besar terhadap cara manusia dalam mengolah sumber daya dan memproduksi barang. Revolusi industri merupakan fenomena yang terjadi antara 1750 – 1850. Saat itu, terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Perubahan tersebut ikut berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.
Revolusi
Industri 1.0
Revolusi Industri yang pertama
terjadi pada abad ke-18 ditandai dengan penemuan mesin uap yang digunakan untuk
proses produksi barang. Saat itu, di Inggris, mesin uap digunakan sebagai alat
tenun mekanis pertama yang dapat meningkatkan produktivitas industri tekstil.
Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya
digantikan dengan mesin tersebut.
Revolusi
Industri 2.0
Revolusi industri 2.0 terjadi di awal
abad ke-20. Revolusi industri ini ditandai dengan penemuan tenaga listrik.
Tenaga otot yang saat itu sudah tergantikan oleh mesin uap, perlahan mulai
tergantikan lagi oleh tenaga listrik. Walaupun begitu, masih ada kendala yang
menghambat proses produksi di pabrik, yaitu masalah transportasi.
Di akhir 1800-an, mobil mulai
diproduksi secara massal. Produksi massal ini tidak lantas membuat proses
produksinya memakan waktu yang cepat karena setiap mobil harus dirakit dari
awal hingga akhir di titik yang sama oleh seorang perakit mobil. Artinya, untuk
merakit banyak mobil, proses perakitan harus dilakukan oleh banyak orang yang
merakit mobil dalam waktu yang bersamaan.
Revolusi terjadi dengan terciptanya
"lini produksi" atau assembly line yang
menggunakan "ban berjalan" atau conveyor belt pada
1913. Hal ini mengakibatkan proses produksi berubah total karena untuk
menyelesaikan satu mobil, tidak diperlukan satu orang untuk merakit dari awal
hingga akhir. Para perakit mobil dilatih untuk menjadi spesialis yang mengurus
satu bagian saja.
Revolusi
Industri 3.0
Setelah revolusi industri kedua,
manusia masih berperan sangat penting dalam proses produksi berbagai macam
jenis barang. Tetapi, setelah revolusi industri yang ketiga, manusia tidak lagi
memegang peranan penting. Setelah revolusi ini, abad industri pelan-pelan
berakhir dan abad informasi dimulai.
Jika revolusi pertama dipicu oleh
mesin uap, revolusi kedua dipicu oleh ban berjalan dan listrik, revolusi ketiga
ini dipicu oleh mesin yang dapat bergerak dan berpikir secara otomatis, yaitu
komputer dan robot.
Salah satu komputer pertama yang
dikembangkan di era perang dunia II sebagai mesin untuk memecahkan kode buatan
Nazi Jerman adalah komputer bernama Colossus. Komputer yang dapat diprogram
tersebut merupakan mesin raksasa sebesar ruang tidur yang tidak memiliki RAM
dan tidak bisa menerima perintah dari manusia melalui keyboard. Komputer purba tersebut hanya
menerima perintah melalui pita kertas yang membutuhkan daya listrik sangat
besar, yaitu 8.500 watt.
Namun, kemajuan teknologi komputer
berkembang luar biasa pesat setelah perang dunia kedua selesai. Penemuan
semikonduktor, transistor, dan kemudian integrated
chip (IC) membuat ukuran komputer semakin kecil, listrik yang
dibutuhkan semakin sedikit, serta kemampuan berhitungnya semakin canggih.
Revolusi Industri
4.0
Nah, inilah revolusi industri yang
saat ini sedang ramai diperbincangkan. Bahkan, diangkat menjadi salah satu
topik dalam debat capres 2019. Industri
4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi
dengan teknologi siber. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek dalam
strategi teknologi canggih Pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi
pabrik.
Pada industri 4.0, teknologi
manufaktur sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut
mencakup sistem siber-fisik, internet of
things (IoT),Cloud
Computing, dan cognitive computing.
Tren ini telah mengubah banyak bidang
kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup.
Singkatnya, revolusi industri 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat
terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.
Dampak Industri 4.0 dan Dampak terhadap Sumber Daya
Manusia
Atmosfir
perubahan hubungan antara manusia mengalami perubahan yang cukup cepat dengan
hadirnya perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang mampu merubah pola
hubungan antara manusia disegala aspek kehidupan bermasyarakat baik dari aspek
sosial, ekonomi,
hukum, politik dan budaya serta keamanan.
Perubahan
dari sentuhan kulit, face to face menuju
kepada sentuhan layar, screen to screen, relasi
virtual dengan berbagai macam window dressing yang
dijalankan secara otomatis dan robotik.
Sebuah
perubahan yang mau tidak mau harus kita sikapi dengan arif dan bijaksana agar
menghasilkan output yang positif. Atmosfir yang meniscayakan adanya perubahan mindset,
cara kerja, dan pola membangun hubungan yang harmonis antar kelompok masyarakat
maupun organisasi.
Fase
perubahan yang kemudian dikenal dengan Revolusi Industri 4.0, sebuah
fase yang secara umum tentang otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi
pabrik, robotic dan artificial
intellegence. Fase yang pada akhirnya menghasilkan "Smart
Process". Di dalam Smart Process tersusun
moduler, algoritma, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan
salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan secara
desentralisasi.
Hubungan
yang saling kait mengkait ini disebabkan karena proses tersebut akan segera
menegasikan peran manusia dalam setiap proses yang dilakukan Perusahaan. Proses
yang bersifat repetisi, duplikasi, periodik akan tersimpan dalam bank data yang
kemudian didesain dengan alogaritma tertentu agar mampu dijalankan secara
robotik.
Bagi
Perusahaan perubahan tersebut tentu sangat menguntungkan, tetapi dari aspek
sumber daya manusia akan membawa dampak yang cukup berbahaya apabila tidak
dikelola dengan baik. Penyesuaian kerja manusia menjadi robotik tentunya
membawa dampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang ada dalam perusahaan.
Akan banyak aktivitas manusia yang punah karena telah digantikan oleh mesin --
mesin melalui artificial intelligence.
Secara culture akan
berdampak pada perubahan hubungan dan aktivitas manusia dan atau robot di dalam
Perusahaan. Jika hubungan industrial sudah terbangun secara harmonis tentu akan
sangat membantu tetapi apabila kondisi tersebut tidak terjadi maka akan menjadi
persoalan baru bagi perusahaan. Alih -- alih ingin menyesuaikan perkembangan
zaman berakibat pada rumitnya proses penyelesaian hubungan industrial.
Sumber :